Diknas pendidikan kab Cianjur diminta harus tegas tidak para oknum pendidik yang tidak punya otak
Pengembalian berkas pendaftaran untuk melanjutkan ke tingkat ke tingkat SMA di SMPN 1 Cianjur dikeluhkan sejumlah orangtua murid. Pelaksanaan pengumpulan berkas setiap murid yang dikordinir oleh pihak sekolah ini membebankan orangtua murid untuk membayar uang Rp150 ribu untuk memuluskan proses masuk ke jenjang SMA.
Salah satu orangtua murid SMPN 1 Cianjur, YN (41) mengatakan, pihak sekolah melakukan pungutan sebesar Rp150 ribu untuk biaya daftar kolektif. Kegiatan ini sudah berjalan satu bulan lamanya.
“Kurang lebih satu bulan lalu anak saya dipinta uang sebesar Rp150 ribu katanya untuk syarat daftar ke masing-masing sekolah tingkat SMA/SMK,” ujarnya, Selasa (05/06/2018).
YN mengaku, dirinya telah membayar lunas biaya tersebut. Namun meski demikian, YN masih harus tetap mengurus pendaftaran anaknya ke SMAN 1 Cianjur.
“Yang jadi pertanyaan, uang sudah saya bayar. Tapi bukan pihak sekolah yang urus persyaratannya justru malah saya sendiri yang harus ngurus kesana kemari. Jadi uang Rp150 ribu itu untuk apa?,” tanyanya.
Senada dikatakan orangtua murid lainnya, YHI (35). Ia mengeluhkan adanya iuran yang harus dibayar untuk syarat pendaftaran kolektif.
“Anak saya juga sama harus bayar Rp150 ribu. Menurut saya itu tidak masuk akal. Uang yang sudah terkumpul itu untuk apa saja? Apa jangan-jangan dijadikan momen menjelang lebaran,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu guru SMPN I Cianjur yang juga sebagai ketua panitia penyelenggara pendaftaran kolektif, Nur membenarkan adanya iuran sebesar Rp150 ribu untuk kelas IX. Uang tersebut digunakan untuk pengadaan berkas-berkas pendaftaran.
“Untuk biaya fotocopy, SKCK, ongkos dan lain-lainya,” katanya.
Nur mengaku, uang yang sudah terkumpul tidak bisa lagi dikembalikan ke orangtua murid karena sudah digunakan untuk belanja perlengkapan pemberkasan pendaftaran murid kelas IX.
“Dari total iuran yang sudah terkumpul sudah kita belanjakan perlengkapan untuk pemberkasan dan digunakan untuk operasional, belum lagi untuk biaya makan panitia,” tuturnya.
Menurut Nur, uang sebesar Rp150 ribu itu bukan untuk mengurus pendaftaran siswa ke SMA/SMK melainkan hanya untuk pemberkasan saja.
“Uang Rp150 ribu itu bukan include (termasuk) hingga pendaftaran melainkan hanya untuk pemberkasan saja,” paparnya.
Menanggapi hal itu, Pengamat Pendidikan Cianjur, Suganda menilai bahwa apa yang sudah dilakukan SMPN 1 Cianjur itu tidak tepat. Modus mengumpulkan uang dengan nominal Rp150 ribu tidak sesuai dengan peraturan.
“Tidak ada sama sekali rambu-rambunya. Jelas sudah menyalahi,” paparnya.
Meski uang itu akan digunakan untuk biaya pemberkasan, menurut Suganda nominal itu masih terlalu besar. “Masa sebesar itu sih (Rp150 ribu). Fotocopy aja gak seberapa. Jadi jangan ada modus-modus lain seperti itu,” tegasnya.
Ia menambahkan, komite sekolah sama sekali tidak memiliki bagian dalam hal ini. Biasanya, komite dilibatkan dalam sumbangan kolektif pembangunan fasilitas sekolah seperti WC.
Lebih lanjut Suganda menerangkan, rasa kekecewaan para orangtua terkait besaran pungutan dinilai wajar. Apalagi, saat ini setiap orangtau juga diperhadapkan dengan kebutuhan jelang Idul Fitri.
“Kok masih bisa ambil-ambil kesempatan? Padahal udah mau lebaran,” ? Kami tim lembaga KPK dpc Cianjur dan tim inteImedia .co merasa Heran dengan Tindakan pendidik seperti itu .pungutan uang terhadap orang Tua murib itu harus jelas juklak juknis nya ,apa lagi 150 ribu permurid dengan nilai sebesar itu melebihi dari dari pada Biyaya potokopi ,uangkap ,pudin ketua lembaga KPK Cianjur sambil senyum kecil
Menurut saya pendidik seperti itu tidak punya otak ,udh di gajih Sama negara ,masih aja ngakalin orang tua siswa .kami tim lembaga KPK komunitas pengawas korupsi Cianjur .akan laporkan oknum pendidik yang tidak punya otak ke pihak yang berwajib .karna saya nilai pungutan ini melebihi dari batas kewajaran ,ungkap pudin ."""(tim Intelmedia co Cianjur )