Intelmedia.co Dewan pimpinan pusat organisasi Peo Gibran sudah terbentuk dan saat ini sedang mempersiapkan deklarasi sambil menunggu terbitnya...
Intelmedia.co Jumat 21/3/2025 banyak Isyu miring tentang pendidikan Firdaus oiwobo yang berseliweran di media sosial,namun setelah team media...
Intelmedia.co pendaftaran seleksi ketua pemberantasan korupsi  atau kpk sudah di mulai, dan beberapa calon telah mendaftarkan diri...
24 Juli 2019 | Dibaca: 1543 Kali
MASYARAKAT INGINKAN KEADILAN, KARENA PENCEMARAN SPBU, SAMPAI MELAKUKAN UNRAS (UNJUK RASA)

PACET, INTELMEDIA.CO - Puluhan warga yang terdampak pencemaran beberapa waktu lalu, kini semakin mendesak kepada pemerintah daerah serta dinas terkait dalam upaya penanganannya. Hal tersebut dilakukan dengan cara melakukan orasi dan pernyataan sikap di depan SPBU di Jalan Raya Ciherang Kecamatan Pacet, yang dilanjutkan ke kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cianjur, dan kemudian beralih ke pendopo Bupati Cianjur, Selasa (23/7) kemarin.

Aksi tuntutan yang disampaikan puluhan warga yang terdampak tersebut merupakan buntut dari berlarut-larutnya penanganan kasus pencemaran air sumur warga di RT 06, 01 RW 01 Desa Ciherang Kecamatan Pacet selama hampir tiga bulan.

"Maka kami (warga, red) meminta agar pihak-pihak terkait segera menangani masalah ini dengan serius dan komprehensif sampai tuntas," ucap koordinator aksi, Ludi Burdah Muslim, pada rilis yang disampaikan kepada Radar Cianjur kemarin.

Menurutnya, sampai saat ini belum ada upaya penanganan serius dari pihak Pemda Kabupaten Cianjur mengenai kejadian kasus ini. Serta warga mengecam sikap DLH yang terkesan cuci tangan dalam masalah tersebut. Nasib warga pun digantung karena kesimpulan hasil laboratorium yang tidak jelas, bahkan warga mengindikasikan adanya sikap dinas terkait yang dituding tidak netral.

"Kami meminta agar pihak terkait segera turun dan menurunkan tim ahli dari universitas yang konsentrasi dalam bidang pencemaran minyak bumi atau BBM," kata dia.

Pada saat peyampaian hasil uji lab beberapa waktu lalu di aula Desa Ciherang, lanjut Ludi, warga menilai hasil uji labolatorium yang di sampaikan DLH Cianjur, analisa dan diagnosisnya salah kaprah alias tidak nyambung.

"Karena seharusnya diagnosis atau analisa pengujian yang kemarin di paparkan DLH, parameter lab air harus sinkron dengan kasus yang sedang di hadapi oleh warga yaitu mengenai dugaan limbah BBM. Sementara pihak DLH hanya menguji parameter yang tidak perlu sehingga kesimpulannya pun tidak jelas dan bias," tutur Ludi.

Ludi mengatakan, berdasarkan hasil dari penelitian bahwa kandungan senyawa yang terdapat dalam bahan bakar minyak sangat komplek dan beragam.

Salah satunya lanjut Ludi, yakni sejenis senyawa hidrokarbon aromatik yang mudah menguap, mudah terbakar, mudah berpindah tempat di lingkungan, dan tergolong bahan berbahaya beracun (B3) dan bersifat karsinogetik.

"Selain itu senyawa hidrocarbon akan berdampak terhadap kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung," tambahnya.

Ludi menyampaikan, saat ini pihaknya mendesak kepada pihak terkait baik itu dari unsur pemerintah kabupaten (Pemkab), pemerintah pusat dan aparat kepolisian untuk segera mencari sumber utama penyebab pencemaran dan juga mengecam terhadap pihak-pihak untuk tidak melakukan  usaha - usaha menghentikan kasus pencemaran lingkungan.

"Apabila pencemaran ini berasal dari kebocoran tangki SPBU, kami meminta kepada aparat penegak hukum agar menegakan hukum yang seadil-adilnya sesuai dengan Undang Undang (UU) No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelaan lingkungan hidup," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencemaran Pengendali Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLH Cianjur, Dedi Junaidi saat di konfirmasi melalui saluran aplikasi WhatsApp maupun sambungan telepon belum bisa menjawab prihal tudingan dari warga korban pencemaran air sumur tersebut.


Kips

Alamat Redaksi
Jalan A. Damyati No.45, Kota Tangerang
Telp +6221 573729908
Email : info@intelmedia.co